Tuesday, October 30, 2012

Makalah Lingkungan Perkembangan Anak





UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
yang dibina oleh Pak Dimyati



oleh
Enya Dibna Dirigwa                            120151401078
Rida Novi                                            120151401102
Jefri Anggy Lukmana                          120151406044
Suci Aprilia Wahyuningtyas                120151406006



logo-um-copy-transparant-600px.png










PENDAHULUAN
Lingkungan sangatlah erat kaitannya dengan perkembangan anak. Di lingkungan-lah seorang anak belajar, bersosialisasi, juga bermain. Lingkungan memiliki tugas untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki anak. Menurut Ki Hadjar Dewantara lingkungan diklasifikasikan menjadi tiga yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam bab ini kami akan menjelaskan tentang peran lingkungan keluarga terhadap perkembangan potensi anak.
BAB II
PEMBAHASAN
            Keluarga telah dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Predikat ini mengindikasikan betapa berperan dan berpengaruhnya lingkungan keluarga terhadap pembentukan perilaku dan kepribadian anak. Keluarga merupakan pihak yang paling awal memberikan banyak perlakuan kepada anak. Apa yang dilakukan dan diberikan oleh pihak keluarga tersebut, maka akan menjadi sumber perlakuan pertama yang mempengaruhi pembentukan karakteristik pribadi dan perilaku anak. Dalam hal perkembangan kognisi anak, keluarga lebih bersifat memberikan dukungan baik dalam hal penyediaan fasilitas maupun penciptaan suasana belajar yang kondusif. Sebaliknnya, dalam hal pembentukan perilaku, sikap dan kebiasaan, penanaman nilai, dan perilaku-perilaku sejenisnya, lingkungan keluarga akan lebih dominan. Di sini lingkungan keluarga dapat memberikan pengaruh kuat dan sifatnya langsung. Berkenaan dengan pengembangan aspek-aspek perilaku itu, keluarga dapat berfungsi langsung sebagai lingkungan kehidupan nyata untuk mempraktekkan aspek-aspek perilaku dan inilah yang menjadi landasan pembuatan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2/1989. Dalam UU tersebut berbunyi bahwa keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai-nilai moral dan ketrampilan.
1.      Fungsi Keluarga
1.1         Fungsi dalam pembentukan kepribadian
a.       Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak
b.      Menjamin kehidupan emosional anak
c.       Menanamkan dasar pendidikan moral anak
d.      Memberikan dasar pendidikan sosial
e.       Meletakan dasar-dasar pendidikan agama
f.       Bertanggung jawab dalam memotivasi dan mendorong keberhasilan anak
g.       Memberikan kesempatan belajar dengan mengenalkan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi  kehidupannya kelak sehingga ia mampu menjadi manusia dewasa yang mandiri.
h.      Menjaga kesehatan anak sehingga ia dapat dengan nyaman menjalankan proses belajar yang utuh.
1.2         Fungsi keluarga dalam mendukung pendidikan anak
a.       Memperhatikan sekolah anaknya dengan cara memperhatikan pengalaman-pengalaman sang anak dan menghargai segala usahanya;
b.      Menunjukkan kerjasama kepada sang anak dengan cara membimbingnya dalam belajar maupun menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) dan memotivasinya;
c.       Bekerja sama dengan guru untuk mengatasi kesulitan belajar anak;
d.      bersama anak mempersiapkan jenjang pendidikan yang akan dimasuki dan mendampingi selama menjalani proses belajar di lembaga pendidikan.
Untuk dapat menjalankan fungsi tersebut secara maksimal, orang tua harus memiliki kualitas diri yang memadai, sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan harapan. Artinya orang tua harus memahami hakikat dan peran mereka sebagai orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang tepat, pengetahuan tentang pendidikan yang dijalani anak, dan ilmu tentang perkembangan anak, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu bentuk pola pendidikan terutama dalam pembentukan kepribadian anak. Pendampingan orang tua dalam pendidikan anak diwujudkan dalam suatu cara-cara orang tua mendidik anak. Cara orang tua mendidik anak inilah yang disebut sebagai pola asuh. Setiap orang tua berusaha menggunakan cara yang paling baik menurut mereka dalam mendidik anak. Untuk mencari pola yang terbaik maka hendaklah orang tua mempersiapkan diri dengan beragam pengetahuan untuk menemukan pola asuh yang tepat dalam mendidik anak.

2.      Pola Asuh
            Pola pengasuhan orang tua adalah cara-cara orangtua berinteraksi secara umum dengan anaknya. Pola pengasuhan orangtua juga akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan kognisi anak. Dalam hal pengasuhan, pola pengasuhan masing-masing orangtua berbeda-beda, ada yang berpola pengasuhan otoriter, pengasuhan permisif dan pengasuhan otoritatif.
2.1  Tipe-tipe pengasuhan
a.       Pola pengasuhan otoriter, yaitu orangtua berupaya menerapkan seperangkat peraturan kepada anak-anaknya secara ketat dan sepihak. Karakteristik anak yang dihasilkan karena pola pengasuhan ini ialah anak akan menarik diri dari pergaulan serta tidak puas dan tidak percaya terhadap orang lain.
b.      Pola pengasuhan permitif, yaitu orangtua memberikan kebebasan kepada anaknya dan kurang memberikan kontrol. Maka, karakteristik yang dimiliki   anak ialah kurang dalam harga diri, kendali diri, dan kecenderungan untuk berekplorasi.
c.       Pola pengasuhan otoritatif, yaitu orangtua otoritatif berupaya menerapkan peraturan kepada anaknya melalui pemahaman bukan paksaan, dalam  menyampaikan peraturan-peraturannya dengan disertai penjelasan yang dapat dimengerti. Anak akan mempunyai karakteristik hidup mandiri; betangggung  jawab secara sosial; memiliki kendali diri, bersifat eksploratif, dan percaya diri.

     Dari ketiga pola atau pola pengasuhan orang tua kepada anak diatas, cara yang paling baik merupakan pola otoritatif. Mengapa otoritatif? Ini dikarenakan seorang anak yang dibesarkan dalam asuhan otoritatif memperlihatkan kemampuan penyesuaian diri yang lebih baik. Dan dari sini seorang anak cenderung memiliki rasa kendali yang lebih kuat serta dapat diterima oleh teman dan orang-orang disekitarnya.

2.2    Contoh penerapan pola asuh
Berikut ini contoh penerapan cara asuh anak sejak dini menurut Dorothy Law Nollte:
a.        Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
b.        Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
c.         Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
d.        Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
e.        Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
f.          Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
g.        Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
h.        Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
i.          Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya.
2.3  Faktor yang mempengaruhi perbedaan pola asuh
Menurut Hurlock (1995) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pola asuh orang tua, yaitu karakteristik orang tua yang berupa :
a.       Kepribadian orang tua
Setiap orang berbeda dalam tingkat energi, kesabaran, intelegensi, sikap dan kematangannya. Karakteristik tersebut akan mempengaruhi kemampuan orang tua untuk memenuhi tuntutan peran sebagai orang tua dan bagaimana tingkat sensifitas orang tua terhadap kebutuhan anak-anaknya.
b.      Keyakinan
Keyakinan yang dimiliki orang tua mengenai pengasuhan akan mempengaruhi nilai dari pola asuh dan akan mempengaruhi tingkah lakunya dalam mengasuh anak-anaknya.
c.       Kesamaan pola asuh yang diterima orang tua
d.      Penyesuaian dengan cara yang disetujui kelompok
e.       Usia orang tua
f.       Pendidikan orang tua
g.      Jenis kelamin
h.      Status sosial ekonomi
i.        Konsep mengenai peran orang tua dewasa
j.        Jenis kelamin anak
k.      Usia anak
l.        Temperamen
m.    Kemampuan anak
n.      Situasi



           
3        Peran keluarga dalam  pendidikan anak
           
            Peran keluarga dalam pendidikan anak di dalam keluarga merupakan konsekuensi logis dari fungsi keluarga dalam kaitan dengan keberadaan dan status anak. Orang tua dan anak sebagai komponen sistem utama keluarga merupakan suatu kesatuan dalam mencapai tujuan keluarga.
            Seiring perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, yang membawa dampak terhadap semakin lemahnya kontrol keluarga luas, dan menguatnya kedudukan keluarga inti dalam konstelasi kehidupan keluarga masa kini, maka diskursus megenai keluarga inti mejadi penting dilakukan.
            Oleh karena itu bagaimana gambaran mengenai peran keluarga inti dalam pendidikan anak di dalam keluarga, merupakan tema penting yang memerlukan pendekatan yang tertentu untuk mendeskripsikannya

















Daftar Rujukan :
https://zhuldyn.wordpress.com/, diakses pada 3 Oktober 2012
http://dbatmoko.blogspot.com/2012/04/lingkungan-perkembangan-anak.html, diakses pada 3 Oktober 2012



No comments:

Post a Comment

Post a Comment